Rabu, 13 Februari 2019

Apa Perbedaan antara Pemikiran Subjektif dan Objektif ?



Manusia memang memiliki point of view atau sudut pandang yang berbeda-beda terhadap suatu hal. Perbedaan sudut pandang tersebut disebabkan oleh perbedaan latar belakang masing-masing individu, seperti pengalaman, pengetahuan, dan lan sebagainya.

Faktanya ternyata ada sekitar 95% orang didunia berpikir secara subjektif, dan hanya 5% yang memiliki pemikiran objektif. Mengapa bisa demikian ?

Sebenarnya secara garis besar, pendapat atau opini manusia dibagi menjadi 2 orientasi pemikiran, yaitu berfikir secara Subjektif dan Objektif. Apa maksud dari keduanya ? Kali ini saya akan menjelaskan mengenai Apa Perbedaan antara Pemikiran Subjektif dan Objektif ? Langsung saja simak penjelasannya berikut ini.

Baca Juga : Cara Menambah Tinggi Badan dengan Cepat dan Tepat (Pengalaman Pribadi)

Subjektif

Subjektif adalah ppendapat atau penilaian seseorang yang lebih mengacu pada keadaan dimana seseorang berpikiran relatif, hasil dari menduga duga, berdasarkan perasaan atau selera dan egonya, dan hasilnya berbeda-beda.

Contoh pertama, ketika 5 orang wanita dimintai untuk menilai penampilan seorang pria, penilaian beberapa wanita tersebut akan berasal dan mengacu dari dirinya sendiri. Mungkin saja dari 5 orang, 2 diantaranya menilai pria tersebut ganteng dan 2 diantaranya mengakatan biasa–biasa saja, dan bahkan 1 mengatakan jelek.

Contoh kedua, kita sebelumnya selalu diberi tahu oleh orang terdahulu bahwa makanan yang jatuh sebelum 5 menit masih boleh dimakan, padahal faktanya tidak demikian. Kemudian kita menganggap hal itu benar dan kita menyetujuinya.

Padahal jika kita mau mencari informasi, hal ini akan terbukti kebenarannya. Maka penilaian tersebut tetap disebut subjektif meskipun berasal dari mayoritas penilaian orang lain, karena fakta ilmiahnya mengatakan lain.

Maka dari kedua contoh diatas bisa disimpulkan, pemikiran subjektif adalah pemikiran yang bersifat relatif atau penilaian menurut pribadi masing-masing / berasal dari perasaan dan pengetahuan orang tersebut yang kebenarannya cenderung tidak akurat.

Objektif

Sedangkan objektif merupakan pemikiran terhadap suatu hal yang lebih pasti, bisa diyakini kebenarannya, tapi bisa juga melibatkan perkiraan dan asumsi yang didukung dengan fakta/data yang sesungguhnya. Sikap objektif adalah sikap yang harus dijunjung tinggi bagi seseorang untuk menilai suatu masalah.

Penilaian secara objektif biasanya digunakan dalam metode penelitian dengan tujuan mendapatkan kepastian ilmu, termasuk dalam menghitung suatu rumus, menganalisa transaksi ekonomi, dan lain sebagainya.

Pada umumnya, manusia berpikir secara objektif agar dapat mendapatkan kepastian dalam berpikir dan bertindak, hal ini karena objektif merupakan sifat yang konstan dalam artian tidak berubah–ubah atau jelas terhadap suatu masalah dan keaadaan.

Cara yang bisa digunakan untuk menilai keobjektifan adalah dengan mencoba membandingkan hasil dari penilaian beberapa orang. Jika hasilnya cenderung sama, maka penilaian tersebut bisa disebut penilaian yang bersifat objektif.

Contoh pertama, kita menilai motor A merupakan suatu motor yang bagus, karena menurut kita produk tersebut memiliki desain yang keren, mesin yang kencang, dan material yang baik. Lalu kita coba mencari tau pendapat orang lain.

Dari 10 orang yang kita tanya, ternyata delapan diantaranya setuju terhadap pendapat kita dan 2 diantaranya tidak setuju. Kemudian setelah kita telusuri, kedelapan orang tersebut ternyata pernah menaiki motor tersebut dan dua orang yang tidak setuju baru pernah melihatnya di iklan.

Bisa disimpulkan, bahwa kedelapan orang tersebut berpikir secara fakta atau kenyataan karena mereka memang pernah mencobanya dan faktanya motor itu memang bagus, dan dua orang yang tidak setuju ternyata hanya memprediksi atau dapat kita simpulkan mereka hanya berpikir subjektif.

Atau mungkin jika dari kedelapan orang yang setuju tersebut beberapa diantaranya ada yang juga hanya memprediksi, namun seperti sudah dijelaskan sebelumnya. Kita bisa menganggap sebuah pemikiran objektif atau tidak dari mayoriritas pendapat yang cenderung sama dan dapat dibuktikan atau didukung dengan fakta.

Terkadang kita memang sulit untuk membedakan mana pemikiran yang Subjektif atau Objektif, dan juga sulit untuk menemukan perbedaan terang (yang mendasar) dari ke duanya.

Contoh lain untuk kedua kasus subjektif dan objektif, misalkan ada seorang anak bernama si A mendengar cerita dari temannya sebut saja si B. Ia bercerita pada si A bahwa temannya lainnya, yaitu si C ternyata mendapatkan ranking 1 karena selalu mencontek saat ujian. Karena penjelasan si B terdengar begitu meyakinkan, si A pun langsung percaya dan men-judge si C tersebut merupakan orang yang seperti itu.

Padahal si A sendiri belum mengetahui apakah itu 100% benar, si A baru mendengarkan secara sepihak melalui perkataan si B. Kemudian lebih parahnya lagi, tanpa pikir panjang si A juga menceritakannya kepada temannya yang lain yaitu si D.

Karena si D orangnya tidak mudah percaya, akhirnya ia pun coba mencari pendapat dari berbagai pihak yang sekiranya tau pasti akan hal ini. Akhirnya ia pun mencari taunya dari orang-orang yang duduk didekat si C saat ujian.

Ternyata mereka berkata lain, mereka berkata bahwa si C memang anak yang cerdas dan jujur, ia selalu belajar dengan giat dan tak pernah mencontek saat ujian. Meskipun sudah dijelaskan seperti itu, namun si D tetap tidak mudah percaya.

Lalu ia mencoba untuk mencari keterangan atau pendapat dari pihak lain, yaitu ibu si C. Ibu si C pun berpendapat bahwa anaknya memang cerdas dan jujur, ia mengungkapkan bahwa si C tak pernah sekalipun tak jujur kepadanya dan orang sekitarnya, dan juga ia mengaku selalu melihat si C belajar setiap harinya.

Meskipun telah begitu, si D pun masih tak percaya, ia pun langsung meminta penjelasan langsung kepada si C, dan ternyata ia memang terbukti anak yang cerdas dan jujur.

Nah, dari cerita diatas dapat kita simpulkan bahwa si A dan si B  ternyata memiliki pemikiran yang subjektif karena menerima sesuatu secara sepihak atau prediksi tanpa didasari fakta yang kuat. Dan parahnya pemikiran subjektif dapat berakibat buruk pada kehidupan kita. Oleh karena itu kita harus berpikir secara objektif seperti yang dilakukan oleh si D yang mencari kebenaran atau faktanya terlebih dahulu.

Ia tak mudah percaya dengan pendapat dan pernyataan yang dilontarkan si A, karena ia selalu berpikiran objektif. Orang yang berpikiran objektif akan mencari kejelasan tidak hanya dari suatu pihak, namun juga dari pihak lain dan pihak yang dijadikan objek itu sendiri.

Kesimpulan

Bagaimana sudah paham kan perbedaan dari keduanya ? Jika belum, berikut kesimpulannya.

  • Untuk berpikir objektif, maka seseorang harus mampu menghilangkan penilaian-penilaian dan rasa tidak suka yang ada pada dirinya terhadap objek yang sedang ia nilai.
  • Penilaian ataupun Pemikiran yang Subjektif / Objektif, sulit menemukan perbedaan terang (yang mendasar) dari ke duanya. Namun biasanya pemikiran subjektif akan terlihat seperti melebih-lebihkan.
  • Pemikiran Subjektif itu biasanya masih berupa asumsi yang tidak akurat (masih dapat ditentang) seperti contoh kasus makanan jatuh sebelum lima menit tadi.
  • Objektif itu terkait asumsi yang berdasarkan dat –data yang empirik yang nyata.


Untuk kita yang beragama islam, sebenarnya Allah sudah memerintahkan kita untuk tidak berfikir subjektif. Hal ini tertuang di dalam Q.S 10:36 yang artinya :

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”
(Q.S. Yunus : ayat 36)

Dan ini juga tertuang dalam Q.S. 17:36, yang artinya :

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”
(Al-Isra : ayat 36)

Dari kedua ayat diatas, sudah jelas bahwa Allah melarang kita untuk berperilaku subjektif, dan memerintahkan kita untuk berbuat yang sebaliknya, yakni bersikap objektif. Bahkan di dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan kita untuk berbuat objektif secara umum. Artinya, berperilaku objektif harus di tempatkan di setiap hal. Tidak hanya pada hal tertentu saja.

Itulah Apa Perbedaan antara Pemikiran Subjektif dan Objektif ? Penjelasan dan uraian diatas merupakan rangkuman dari berbagai sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Jika kalian memiliki pendapat lain, silahkan berkomentar pada kolom disqus dibawah dan budayakanlah berdiskusi mengenai suatu hal untuk mencapai suatu tujuan yang lurus.
Load disqus comments

0 komentar